FATWA GURU MURSYID
THARIQAT NAQSYABANDIYAH YAYASAN JABAL QUBIS
Syekh  H. Ghazali An Naqsabandi
 

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Di Indonesia dewasa ini banyak berkembang ajaran thariqat dengan beragam bentuk cara pengamalannya, seperti thariqat Naqsyabandiyah, Qadariyah, Syatariah, Syadziliyah dan lain-lain. Semua ajaran thariqat tersebut dipimpin oleh seorang Guru Mursyid sebagai pembimbing dan penuntun ke jalan menuju pada satu tujuan yaitu ma’rifat billah atau mengenal Allah. Tanpa Guru yang mursyid tidaklah mungkin seseorang itu dapat melakukan perjalanan sampai kepada tujuan dimaksud.

Seorang Guru Pembimbing (Mursyid) haruslah benar-benar bisa mengarahkan murid ke jalan yang benar. Ukuran benar dan salah di sini adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi serta Akal Sehat. Jika keluar dari kerangka tersebut berarti mursyid tersebut ajarannya tidak benar dan harus dihindari.

Seorang Mursyid dalam thariqat naqsyabandiyah, haruslah mempunyai bukti otentik bahwa ia telah dibolehkan untuk menurunkan ilmu kerohanian yang diperoleh dari gurunya kepada orang lain dan bukti otentik tersebut misalnya ijazah. Dan gurunya itupun sudah pula mendapatkan ijazah dari gurunya dan seterusnya dari guru ke guru hingga sampai kepada Abu Bakar As Siddiq dan Abu Bakar gurunya adalah Rasulullah SAW dan gurunya Rasulullah Saw adalah Jibril sedangkan Jibril dari Allah SWT.

Oleh karena itu dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya mengingatkan kepada seluruh masyarakat, apabila ingin mendalami ilmu kerohanian untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT hendaklah berguru kepada orang yang ahli. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah An Nahl ayat 43 yang berbunyi : “Fas Alu Ahla dzikri in kuntum laata’lamun” (Bertanyalah kepada Ahli Dzikir kalau kamu belum tahu).

Boleh belajar ilmu kerohanian (dzikir hati) secara otodidak, dengan membaca buku-buku tentang ilmu tasawuf, thariqat dan sebagainya. Namun bagaimana sistem dan caranya sudah tentu harus melalui seorang guru yang memang sudah ahli di bidang tersebut. Sebab tanpa guru pembimbing yang mursyid untuk mengaplikasikan system dan cara dzikir hati dapat dipastikan akan datang iblis dan syetan sebagai guru pembimbingnya

Dalam Surat Al-Kahfi ayat (17) Allah Swt berfirman : “Man Yahdillaahu fahuwal muhtad wa man yudhlil falan tajida lahuu Waliyyan Mursyiida”. (Barang siapa diberi petunjuk maka ia akan mendapat Hidayah, dan barangsiapa disesatkan maka tidak akan dipertemukan dengan Wali Mursyid.)

 

 

 

Guru Besar Thariqat Naqsyabandiyah Yayasan Jabal Qubis Saidi Syekh H. Ghazali An Naqsabandi, pada bulan September 2011 telah mengambil tindakan tegas terhadap Syekh Mursyid H. Suyadi bin Sutariyo yaitu dilakukan pencabutan status sebagai Mursyid sekaligus dikeluarkan dari jamaah Thariqat Naqsyabandiyah Yayasan Jabal Qubis. Tindakan tegas tersebut dilakukan karena Syekh H. Suyadi bin Sutariyo dianggap telah melanggar adab-adab Thariqat Nasyabandiyah yang sangat krusial.

Sebagaimana diketahui bahwa Syekh H.Suyadi telah dikukuhkan oleh Tuan Guru Syekh H. Ghazali An Naqsabandi dari Khalifah Besar menjadi Mursyid pada bulan Oktober 2010, dengan wilayah binaan/pengembangan di Provinsi Kalimantan Tengah.

Oleh karena itu sejak bulan September 2011 Yayasan Jabal Qubis tidak bertanggungjawab terhadap segala kegiatan H. Suyadi bin Sutariyo khususnya dalam masalah Thariqat Naqsyabandiyah dan kemursyidan. Ijazah resmi H. Suyadi bin Sutariyo sebagai Mursyid pada Thariqat Naqsyabandiyah Yayasan Jabal Qubis belum diberikan hingga saat beliau dikeluarkan sebagai jamaah.

Copyright 2007 Thariqat Naqsyabandiyah.